Aku, Kamu, dan Perbedaan Kita
Berharganya Waktu Bersama Keluarga
"Bagaimana kabarmu ayah, ibu?"
Saya yakin hanya sedikit yang sering melakukannya. Bahkan bisa dibilang jarang ada yang melakukannya. Hanya sekedar menanyakan kabar orang yang kita sayangi pun jarang :(
Kerap kali terbersit rasa bersalah dan nggak enak ketika saya pulang malam dari kampus, entah itu tidak disengaja karena mengerjakan tugas ataupun sedikit disengaja karena terlalu asik dengan teman-teman di kampus. Padahal kita tidak tahu bagaimana kedua orangtua di rumah cemas menanti kedatangan kita. Kita tidak tahu bahwa ibu kita sudah membuat masakan khusus untuk anak tersayangnya. Terkadang kita sudah makan sewaktu di kampus, dan apa yang terjadi? Masakan ibu kita yang dibuat dengan sepenuh hati tidak termakan :(
Belum lagi ketika sesampainya di rumah, kita masih asyik mengerjakan tugas-tugas. Tidak ada waktu yang kita luangkan untuk sekedar berkumpul dan bercengkrama dengan orang tua dan saudara-saudara kita. Waktu seharian sudah kita gunakan di luar rumah, bisa dibilang di rumah kita hanya menumpang makan dan tidur.
Keluarga itu nomor satu dan paling penting. Karena hanya keluarga yang mau menerima kita dalam kondisi seburuk apapun. Sebisa mungkin luangkanlah waktu walaupun sedikit untuk keluarga kita, untuk duduk bersama, bercengkrama hal-hal ringan, atau hanya sekedar menyapa menanyakan kabar. Sebisa mungkin pula gunakanlah waktu weekend untuk berkumpul bersama keluarga. Kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin bersama orang-orang yang kita sayangi, keluarga kita sendiri.
Nostalgia 7 Tahun Lalu di Pusat Kota
Yogyakarta, kota kecil yang mempunyai daya tarik tersendiri di mata para wisatawan. Kalau berbicara tentang Yogyakarta, orang awam akan menerka bahwa pusat/tengah kotanya berada di kawasan Malioboro. Memang benar, titik nol kilometer berada di kawasan Malioboro. Tepatnya di perempatan kantor pos besar Yogyakarta. Teringat tujuh tahun lalu, setiap hari saya beraktivitas di lingkup tengah kota karena saya bersekolah di SMP 2 Yogyakarta. Banyak suka duka yang saya alami ketika bersekolah disana.
Sukanya adalah karena di pusat kota, relatif dekat untuk mencapai tempat-tempat strategis yang dulu. Dan sekolah saya SMP 2 dekat dengan Malioboro, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Pasar Bringharjo, Shopping, dan Taman Pintar. Seperti dulu ketika sekolah pulang cepat, saya memanfaatkan waktu untuk bermain di sekitar Malioboro. Cukup dengan berjalan kaki dan dalam waktu yang singkat, saya sudah bisa sampai di Malioboro. Walaupun sebenarnya yang saya dan teman-teman lakukan hanyalah hal yang tidak penting. Sekedar windows shopping, lalu membeli es krim di restoran cepat saji. Kalau tidak ke Malioboro, tujuan yang lain adalah menuju Pasar Bringharjo. Dulu ketika SMP, sering ada tugas PKK untuk membuat bunga dari sedotan dan tugas menyulam. Kami bisa mudah mendapatkan bahan-bahannya hanya dengan mengunjungi Pasar Bringharjo.
Sementara dukanya adalah......................
Seperti sekarang ketika marak demo tentang kenaikan BBM. Para aktivis atau mahasiswa yang melakukan demo pasti akan memilih tempat yang strategis. Dan titik nol kilometer adalah tempat yang mereka pilih. Alhasil lalu lintas menjadi tidak lancar dan macet. Bus-bus menjadi lambat dan sering mengalihkan jalur seenaknya (saya dulu pulang sekolah naik bis). Kadang kalau tidak dapat bis, saya harus pulang jalan kaki. Lumayan menguras keringat berjalan satu kilometer. Belum lagi ketika “Sekaten” sedang berlangsung. Kawasan Alun-Alun Utara dipadati oleh pengunjung yang berjubel. Hal tersebut juga menyulitkan saya untuk pulang. Sekitar jam 5 sore, pasti jalan menuju Alun-Alun Utara sudah ditutup. Padahal karena aktivitas di SMP, saya harus pulang sore. Alhasil saya tidak bisa pulang naik bus juga dan harus berjalan kaki :(
Nostalgia 7 tahun yang lalu, mengingatkan ada sisi “rekoso” dalam kehidupan saya. Mungkin kelak akan menjadi pengalaman yang menggelikan untuk dikenang. ^^
Orang Autis Itu Luar Biasa
Autisme, ternyata menimpa adik saya, Fakhri Rozan Kurniawan. Gejala awalnya mulai diketahui saat dia berumur 2 tahun. Pada kisaran umur tersebut, anak normal seharusnya sudah bisa berbicara mengucap beberapa patah kata. Tetapi sampai usia 2 tahun, adik saya belum bisa berbicara. Sudah dibawa ke dokter THT, tetapi dokter menyatakan semuanya normal dan tidak ada gangguan. Kemudian diketahuilah bahwa adik saya mengidap autisme.
Dulu adik saya sempat disekolahkan di sekolah khusus autis, yaitu di Bina Anggita (daerah Banguntapan Bantul). Kalau saya nggak salah ingat, waktu itu saya masih sekolah kelas 4 SD. Biayanya pun tidak murah, sebulan harus membayar SPP sekitar 300-400 ribu rupiah. Di sekolah khusus itu, adik saya diajari untuk bicara, menggambar, mencocokkan warna, mencocokkan pola, mencocokkan gambar, serta mengenali bagian tubuhnya sendiri (sampai sekarang dia masih lancar melakukannya). Namun, mengingat biayanya yang cukup mahal, akhirnya orangtua saya memutuskan untuk tidak melanjutkan menyekolahkan adik saya. Dan akhirnya adik saya sehari-hari hanya di rumah.
Di rumah, adik saya tetap diajari untuk mengucapkan kata-kata. Walaupun untuk mengucap kata-kata dia masih harus dituntun, maklum anak autis susah untuk berkonsentrasi. Kata-kata yang paling sering diajarkan untuk ditirukan adalah "Bapak" dan "Ibu" :D
Namun saya merasa adik saya juga punya kelebihan. Pendengarannya sangat peka. Dia bisa hafal suara langkah keluarganya ketika pulang ke rumah, dan dia pasti menyambutnya dengan mengintip ke arah jendela. Dan itu hanya dia lakukan, ketika mendengar langkah kaki keluarganya saja (bapak, ibu, saya, dan adik saya yang satunya lagi). Kemudian kelebihannya yang lain adalah adik saya suka akan keteraturan dan memiliki daya ingat tinggi. Ketika suatu barang tidak pada tempatnya, dia pasti akan mengembalikannya ke tempat semula. Contohnya adalah ketika letak kunci motor saya dan bapak saya tertukar tempatnya, dia pasti akan menukarnya kembali. Pokoknya dia hafal dengan letak semua barang yang ada di rumah. Saya yakin dia luar biasa, dan mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.
Sekarang adik saya hampir berusia 16 tahun. Memang adik saya termasuk yang perkembangannya terlambat, karena di usia yang seharusnya dia sudah bersekolah di SMA, dia bahkan masih belum bisa bicara. Yang anak autis butuhkan adalah perhatian lebih. Anak autis punya kesempatan untuk sembuh. Semoga saya dan keluarga saya selalu diberikan kesabaran untuk terus mendampingi adik saya Fakhri sampai sembuh. Amin :)
Hukum yang Dihukum
Gambar: http://depoklik.com/wp-content/uploads/2011/12/palu-hakim1.jpg
Mama, You're My Everything






